Menyemai Mimpi Pada Jiwa Anak

MUNTAMAR
0
 “Nak….kalau sudah besar nanti mau jadi apa ya..? atau “Nak…belajar yang rajin yaa…biar tercapai cita-citamu…!
Dua pertanyaan diatas tidak asing bagi orang tua. Pasalnya, dua pertanyaan tersebut sering terlontar dari lisan orangtua kepada anaknya. Kedua pernyataan itu menandakan bahwa para orangtua mengiginkan anaknya memiliki mimpi di hari esok. Orangtua sama sekali tidak ingin anaknya menjalani kehidupan ini dengan hampa tanpa cita-cita.
Mengapa anak yang hidup tanpa cita-cita amat dikhawatirkan orang tua? Sebab, tanpa cita-cita kehidupan anak akan kehilangan ghairah untuk belajar, bekerja dan berdoa. Tanpa cita-cita, anak takt ahu kemana harus melangkah, harus bekerja seperti apa? Akibatnya, kehidupan anak akan mengalir begitu saja. Tak tujuan yang hendak diraih. Amat berbahaya bila terjebak pada pergaulan yang menyeret pada kehidupan foya-foya, asal senang, dan asal puas sesaat.

Kejarlah Cita-Citamu Nak…
 Seringkali orangtua berkata kepada anaknya, Belajar yang rajin Nak ya, biar nanti jadi orang sukses, berlimpah uang, bisa punya rumah bagus, punya mobil banyak.”
      Tak ada yang keliru dengan perkataan itu. Hanya saja, perkataan seperti itu berpotensi mengantarkan anak-anak menjadi budak dunia. Akibatnya, dalam jiwa anak tertanam bahwa visi tertinggi dalam hidup ini adalah meraih kesuksesan duniawi. Sehingga anak kita berlelah dan berpayah mengejar dunia hanya demi untuk dunia.
          Bila visi anak seperti itu, maka seluruh aktivitasnya adalah demi duniawi. Misalnya, anak kita menjadi dokter, pedagang atau lainnya, karena niatnya memang untuk mendapat kekayaan materi semata, maka harta yang diperoleh dari profesinya itu akan diinvestasikan kembali untuk proyek-proyek yang bisa mendatangkan keuntungan duniawi lagi. Bermula dari niat seperti itu, yang kita takutkan adalah anak-anak kita akan merugi di akhirat nanti.
Allah swt berfirman, “Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (dunia), maka Kami segerakan baginya di (dunia) ini apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Kemudian kami sediakan baginya (di akhirat) neraka Jahannam, dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” (Al-Ira’ (17) : 18)
       Lain halnya bila anak kita memiliki cita-cita yang berdimensi ukhrawi, maka harta yang mereka peroleh dari profesinya itu akan diinvestasikan bukan untuk duniawi semata, tapi juga untuk keuntungan akhirat. Seperti berinfak di jalannya, menolong sesame, membangun fasilitas umum, serta berkontribusi pada proyek-proyek kebaikan lainnya. Bahkan boleh jadi, proyek-proyek ukhrawi lebih ia utamakan dari pada proyek duniawi. Bagi anak yang berjiwa seperti ini, nikmat dunia yang ada padanya akan dipergunakan untuk mengejar nikmat akhirat yang lebih kekal.
Allah swt berfirman,Barang siapa menghendaki keuntungan akhirat akan kami tambahkan keuntungan itu baginya…”(Asy-Syu’ara (42); 20).
           Lantas apa yang mesti ditanamkan para orang tua kepada anak-anaknya?
       Tak salah, jika orangtua memotivasi anaknya untuk belajar giat agar kelak menjadi dokter, pedagang, dan lainnya. Tapi, motivasi itu mesti disempurnakan hingga menembus kehidupan akhirat. Misalnya dengan mengatakan, 
“Nak belajar yang giat, agar besok bisa sukses dan memiliki banyak harta. Dengan hartamu itu kamu bisa berinfaq untuk kepentingan agamamu. Dengan hartamu itu kamu bisa membiayai proyek dakwah dan perjuangan Islam. Serta dengan hartamu itu kelak kamu tercatat sebagai orang yang ikut serta dalam perjuangan menjayakan agama yang mulia ini.”
       Dengan motivasi itu, seorang anak akan belajar dan bekerja penuh ghairah, tak kenal Lelah, bukan sekedar untuk memberlimpahkan hartanya. Tapi juga ingin menolong dan menjayakan agama ini di kemudian hari.

Mimpi Mengukir Sejarah
       Orang tua berperan penting dalam mengarahkan kehidupan anak agar terarah dan benar. Agar kelak menjadi manusia hebat yang mampu mengukir prestasi yang layak diukir sejarah.

     Tak asing bagi kita seorang pemuda Muhammad Al-Fatih. Beliau adalah manusia hebat yang memiliki prestasi spektakuler, yaitu menaklukan Benteng Konstatinopel. Tentu prestasi gemilang itu tak hadir sketika. Itu diraihnya berkat upaya keras dari orangtuanya. Orangtuanya telah mencarikan guru terbaik baginya, yaitu Syaikh Aaq Syamsuddin. Syaikh memotivasi Muhammad sehingga ia terus belajar dan berlatih demi meraih mimpinya yang begitu mulia.

         Suatu ketika Syaikh membawa Muhammad berjalan menyusuri tepian pantai dan menunjuk kea rah Konstatinopel yang Nampak dari kejauhan begitu kokoh. Lalu Syaikh mengatakan kepadanya: “Apakah engakau melihat kota yang Nampak di san aitu ? Itulah Konstatinopel. Rasulullah SAW telah mengabarkan kepad kita bahwa salah seorang dari umatnya akan menaklukkan kota itu dengan pasukannya dan menggabungkannya ke dalam umat tauhid. Beliau bersabda : 
“Sungguh Konstatinopel itu akan ditaklukkan. Maka sebaik panglima adalah panglima yang menaklukkan itu dan sebaik pasukan adalah pasukan yang menaklukkannya.”
        Syaikh itu masih terus berjalan Bersama dengan anak kecil itu dan memperlihatkan kota kecil itu kepadanya. Ia terus mengulang-ulangi pada pendengaran anak itu Hadits yang mulia tersebut, dan membuatnya merasakan kebanggaan meraih kemenangan dan kemuliaan penaklukan,
Mimpi-mimpi itu akan terwujud ketika engkau membayangkan, mendengarkan dan merasakannya…lihatlah bagaimana pasukanmu menggedor-gedor Konstatinopel..Dengarkan pekikan-pekikan takbir itu..Bayangkanlah betapa bahagianya perasaanmu ketika itu.”
       Para orangtua atau para guru mesti terus menyemai cita-cita dan visi hidup yang terang kepada anaknya atau murid-muridnya. Sebuah mimpi masa depan yang selanjutnya anak-anak akan hidup bersamanya dan berjuang untuk mewujudkannya. Allahu a’lamu bishshawab.
Sumber : Majalah Suara Hidayatullah Edisi Oktober 2019, Hal. 53




Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)