Seorang laki-laki mengirimkan surat kepada Mas Hendra Setiawan, penulis buku Agar Selalu Ditolong Allah. Ia mengungkapkan masalah yang dialaminya.
"Mas, aku sedang punya masalah yang cukup berat. Tolong dibantu ya. Sekalian jangan lupa kasih aku masukan apa saja agar aku bisa lebih maju dan dapat memperbaiki kelakukanku menjadi lebih baik.
Langsung saja ya. Sebenarnya sudah agak lama aku mengidap penyakit. Alhamdulillah belum parah banget atau dalam kata lain masih dalam tingkatan yang rendah. Mungkin Mas Hendra perlu tahu, penyakitku itu lemah jantung.
Tapi yang jadi masalah bukan penyakitnya. Toh, punya penyakit atau tidak, manusia akan tetap mati. Masalahnya adalah keluargaku belum tahu dengan kondisiku ini.
Sebenarnya aku ingin cerita, tapi aku masih ragu dan kuatir. Susah membayangkan, apabila merekatahu tentang ini. Lagi pula aku juga tidak ingin membebani mereka. Mas Hendra kan tahu aku anak bungsu. Memang aku sering diperhatikan di bandingkan yang lain. Namun aku berusaha gak manja kepada orang tua.
Semenjak aku punya masalah ini. Sikapku jadi berubah. Aku jadi gak bisa ngontrol diri. Entah kenapa aku terus menerus memikirkan masalah ini. Pikiranku sulit untuk konsentrasi sehingga semangat belajar dan kreatifitasku menurus drastis. Menurut Mas Hendra, aku harus bagaimana ya? didiamkan saja? atau apa? aku bisa saja berusaha mendiamkan masalah ini, tapi aku belum sanggup untuk melupakannya. Apa menurut Mas Hendra aku harus cerita ke orang tua? Aku gak sampai hati melihat mereka sedih. Kalau aku cerita pasti mereka semakin sangat sedih.
Perlu Mas Hendra ketahui, Ibuku itu sangat perasa sekali. Aku takut kalau Ibuku tahu, beliau langsung membesar-besarkannya. Aku benar-benar tidak mau menambah beban keluargaku. Menurut Mas Hendra aku berdosa tidak karena menyembunyikan penyakit ini
kepada keluargaku yang lain? Aku benar-benar menunggu saran dan nasehat dari Mas Hendra".
Ketika membaca surat itu, Mas Hendra terbayang kondisi yang pernah ia alami dulu. Di berkata, Saya pernah sakit bertahun-tahun. Secara fisik orang lain sulit untuk berkata bahwa saya sakit. Saya tetap bermain, tertawa, dan beraktivitas layaknya orang sehat. Padahal hampir setiap bulan saya harus ke dokter dan setiap hari harus minum obat. Itu berlangsung lebih dari tiga tahun.
Keluarga tentu tahu dengan kondisi saya. Namun saya lebih senang tidak memberitahukan kondisi saya kepada orang lain yang belum tentu bisa membantu. Kuatir
malah orang lain terlalu memberi perhatian.
Kalau saja saya memikirkan terus menerus dan takut dengan hari esok, hidup saya tentu akan lebih menderita lagi. Saya rasa sudah cukup derita yang saya alami. Saya tidak ingin menambah lagi dengan takut memikirkan sesuatu yang belum terjadi. Alhamdulillah atas izin Allah, sekarang saya berada dalam kondisi yang jauh lebih baik dibandingkan dulu.
Dari Kisah diatas, kita bisa melihat bahwa, Waktu kita adalah hari ini. Maka manfaatkan saja hari ini dengan sebaik mungkin dengan melakukan banyak kebaikan. Ingat, kita belum tentu bertemu dengan hari esok. Tidak ada satu pun yang menjamin, kita bisa melihat matahari terbit. Kalaupun Allah mengizinkan kita melihat indahnya dunia pada esok hari, semoga kondisi kita menjadi lebih baik dari hari ini.
