Ingatlah Allah setiap saat, hati selalu tenang

MUNTAMAR
0

Allah menciptakan manusia agar mereka selalu mengingat-Nya. Allah memberi rezeki pada makhluk agar mereka selalu bersyukur kepada-Nya. Akan tetapi, banyak orang yang melupakan-Nya. Ukuran ketenangan pikiran ditentukan oleh seberapa jauh kita mampu hidup di saat sekarang. Terlepas dari apa yang telah terjadi kemarin.


Sadarlah hari ini adalah waktu di mana Anda berada. Janganlah membiarkan diri Anda didominasi oleh masalah masa lalu dan masa depan, yang akhirnya membuat kecemasan dan putus asa. Ada orang yang menjalani hidup seolah-olah hidup adalah bayangan suatu pertunjukan yang akan ditayangkan nanti. 


Padahal kenyataannya tak ada yang dapat menjamin bahwa besok kehidupan masih dialaminya. Hari ini adalah satu-satunya waktu yang kita miliki dan bisa dikendalikan. Orang yang pasti celaka adalah orang yang tidak memiliki iman. Mereka senang berbuat maksiat.


Orang ini selamanya akan berada dalam kegelisahan, dan kesempitan hidup,

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. (QS.20:124)

Anda harus percaya dengan hal itu. Anda tidak perlu mencoba untuk melakukan maksiat. Jangan dikira orang yang bergelimang maksiat hidupnya bahagia. Mungkin dalam pandangan mata Anda mereka yang korupsi, senang dan bahagia karena hartanya berlimpah. Mereka yang senang berzina, mungkin terlihat hidupnya senang, karena gonta-ganti pasangan. Sebenarnya itu hanyalah kesenangan yang semu. Hedi Yunus, seorang penyanyi yang pernah menjalani hidup dengan hura-hura berkata kepada seorang wartawan, bahwa hidupnya sebenarnya menderita dan teman-temannya yang menjalani kehidupan seperti itu juga tidak ada satupun yang bahagia. Dia menyesal tetapi sulit baginya untuk keluar dari lubang kegelapan itu.


Patuh pada manusia, anehnya tidak patuh pada Sang Maha Pemberi


Sayangnya banyak diantara kita yang patuh kepada manusia sedangkan kepada Allah begitu malas untuk patuh. Ada hikmah yang saya dapatkan ketika bekerja di sebuah perusahaan. Pada suatu malam melalui telepon, pimpinan meminta saya datang ke kantor. Padahal saya baru saja tidur dan tubuh terasa lelah. Namun saya tetap pergi ke kantor. Saya heran kalau Allah memanggil melalui azan untuk menghadap-Nya, mengapa malas untuk datang.


Dalam kesempatan lain pimpinan meminta saya untuk berbaju rapi, datang tepat waktu, disuruh ini disuruh itu. Bahkan ada yang meminta saya untuk mandi dan memakai minyak wangi karena tubuh saya bau. Padahal dia sendiripun bau, tapi saya diam karena kuatir menyinggung perasaannya. Saya berpikir mengapa saya mau melakukan apa yang diperintah manusia? Ternyata jawabannya karena saya berharap mereka memberikan imbalan dan pertolongan. Sungguh aneh, bukankah Allah lebih kuasa untuk memberikan anugrah dan pertolongan. Lalu mengapa tidak taat kepada-Nya. Hal ini mungkin juga dialami oleh Anda. Jangan pernah lupa bahwa hanya Allahlah yang Maha Adil dan Maha Pemberi.

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)