Bersyukur Dengan Pemberian Allah

MUNTAMAR
0

Sebuah mobil yang baru saja berjalan menyelusuri kota tiba di rumah pemiliknya. Anak pemilik mobil itu bertanya kepada sopir, bagaimana kondisi di jalan apakah cukup bagus untuk dilalui. Sopir itu menjawab, bagus dan nyaman. Maka anak muda itu dengan menggunakan mobil pergi ke pusat kota. Di luar dugaannya, ternyata lalu lintas sangat padat. Jalanan macet sehingga perlu berjam-jam untuk kembali ke rumah. Kecewa, dongkol, dan marah bercampur dalam hatinya. Sesampainya di rumah dia bertanya kepada sang sopir, 

"Bapak ini bagaimana sih katanya situasi jalan bagus untuk dilalui tapi kok macet sih. Saya sampai stres menunggu antrian. Bapak membuat saya menderita". 

Sopir itu menjawab, 

"Selama saya menjadi sopir saya berusaha untuk menyakinkan diri saya bahwa setiap hari adalah hari yang baik untuk menyupir. Saya senang dengan kondisi apapun yang saya terima, baik macet atau tidak, karena saya tidak bisa menyuruh orang lain tidak menggunakan mobilnya agar jalanan tidak macet. Bapak hanya bisa menyuruh diri Bapak sendiri agar ridha dan sabar dengan apa yang ada".


Jawaban singkat tadi merupakan wujud perasaan syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang penting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tenteram, dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia.


Setiap manusia seharusnya selalu mengingat nikmat yang telah diberikan Allah kepadanya. Apa yang ada pada diri Anda, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki adalah nikmat yang telah diberikan Allah. Anda telah diberi lidah dan bibir, kedua tangan, kedua kaki dan anggota tubuh lainnya.


"Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari- Ku”. (QS. 2:152)


Bersyukur, pada hakikatnya, merupakan konsekuensi logis bagi seorang makhluk seperti manusia kepada Allah, sebagai Tuhan yang telah menciptakan dan melimpahkan berbagai nikmat. Namun, kerap kali manusia terlupa dan tidak bersyukur atas karunia-Nya.


Allah memerintahkan kita untuk mempunyai rasa syukur terhadap-Nya dalam setiap hal, apapun kondisi dan keadaannya. Allah meminta kita agar meyakini bahwa pasti ada kebaikan dalam segala hal yang menimpa kita dengan menyadari bahwa semua itu berasal dari Allah.


Pada umumnya ada 3 hal yang sering membuat kita tak bersyukur


Pertama, kita sering memusatkan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki. untuk Hal ini terjadi karena kita salah dalam melakukan penilaian. Kita sering mengukur suatu nikmat dari Allah dengan ukuran diri sendiri. Artinya, jika keinginannya dipenuhi, maka ia akan mudah untuk bersyukur. 


Sebaliknya, jika belum dikabulkan, maka ia enggan untuk bersyukur. Penilaian seperti ini jelas bertentangan dan cenderung menafikan nikmat yang diberikan. Penilaian yang benar adalah berdasarkan apa yang kita peroleh. Karena, apa yang kita inginkan belum tentu yang terbaik di hadapan Allah dan belum tentu juga yang terbaik buat diri kita.


Pikiran kita dipenuhi berbagai target dan keinginan. Kita begitu mengharapkan rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang. Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi. Jadi, betapapun banyaknya harta dimiliki, kita tak pernah menjadi kaya dalam arti yang sesungguhnya.


Mari kita luruskan kembali definisi orang kaya. Orang yang kaya bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki. Anda perlu menanamkan dalam diri untuk selalu menerima apa yang Anda peroleh dalam hidup ini, baik itu berupa bentuk tubuh, harta, pasangan hidup, anak, tempat tinggal maupun potensi diri.

Kebanyakan ulama terdahulu dan para sahabat nabi adalah orang yang tidak memiliki harta. Mereka tidak mempunyai pendapatan tetap, tidak pula memiliki tempat tinggal yang indah, kendaraan yang bagus, apalagi pembantu. Namun demikian, keadaan tersebut tidak menghalangi mereka untuk mengisi hidup dengan kebahagiaan lahir batin. Mereka menggunakan apa yang telah diberikan Allah pada jalan yang benar. Oleh karena itu, umur mereka, waktu mereka dan aktivitas dalam kehidupan mendapat berkah ilahi.

Tentunya boleh-boleh saja Anda memiliki keinginan, tapi Anda perlu menyadari bahwa inilah akar perasaantak tenteram. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki. Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang Anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup.

Kedua, selalu melihat kepada orang lain yang diberikan lebih banyak nikmat. 

Perilaku ini hanya menyuburkan iri, hasad, dan dengki kepada orang lain. Cobalah untuk melihat orang yang kurang beruntung. Tidak jarang kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita. Rasulullah, mengajarkan, Apabila seseorang di antara kamu melihat orang yang dilebihkan Allah dalam hal harta benda dan bentuk rupa, maka hendaklah ia melihat kepada orang-orang yang lebih rendah daripadanya.

Ketiga, menganggap apa yang dimiliki adalah hasil usaha sendiri. 

Perilaku ini menumbuhkan sifat kikir dan melupakan Allah sebagai pemberi nikmat tersebut. Padahal, tidak ada satu nikmat pun yang datang dengan sendirinya. Melainkan, Allah yang telah mengatur semuanya. 

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu:

Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (QS 31: 12).

Kini, mumpung Allah masih memberikan waktu, sudahkah kita mensyukuri semua nikmat-Nya?

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)