Sebuah mobil yang baru saja berjalan menyelusuri kota tiba di rumah pemiliknya. Anak pemilik mobil itu bertanya kepada sopir, bagaimana kondisi di jalan apakah cukup bagus untuk dilalui. Sopir itu menjawab, bagus dan nyaman. Maka anak muda itu dengan menggunakan mobil pergi ke pusat kota. Di luar dugaannya, ternyata lalu lintas sangat padat. Jalanan macet sehingga perlu berjam-jam untuk kembali ke rumah. Kecewa, dongkol, dan marah bercampur dalam hatinya. Sesampainya di rumah dia bertanya kepada sang sopir,
"Bapak ini bagaimana sih katanya situasi jalan bagus untuk dilalui tapi kok macet sih. Saya sampai stres menunggu antrian. Bapak membuat saya menderita".
Sopir itu menjawab,
"Selama saya menjadi sopir saya berusaha untuk menyakinkan diri saya bahwa setiap hari adalah hari yang baik untuk menyupir. Saya senang dengan kondisi apapun yang saya terima, baik macet atau tidak, karena saya tidak bisa menyuruh orang lain tidak menggunakan mobilnya agar jalanan tidak macet. Bapak hanya bisa menyuruh diri Bapak sendiri agar ridha dan sabar dengan apa yang ada".
Jawaban singkat tadi merupakan wujud perasaan syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang penting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tenteram, dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia.
Setiap manusia seharusnya selalu mengingat nikmat yang telah diberikan Allah kepadanya. Apa yang ada pada diri Anda, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki adalah nikmat yang telah diberikan Allah. Anda telah diberi lidah dan bibir, kedua tangan, kedua kaki dan anggota tubuh lainnya.
"Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari- Ku”. (QS. 2:152)
Bersyukur, pada hakikatnya, merupakan konsekuensi logis bagi seorang makhluk seperti manusia kepada Allah, sebagai Tuhan yang telah menciptakan dan melimpahkan berbagai nikmat. Namun, kerap kali manusia terlupa dan tidak bersyukur atas karunia-Nya.
Allah memerintahkan kita untuk mempunyai rasa syukur terhadap-Nya dalam setiap hal, apapun kondisi dan keadaannya. Allah meminta kita agar meyakini bahwa pasti ada kebaikan dalam segala hal yang menimpa kita dengan menyadari bahwa semua itu berasal dari Allah.
Pada umumnya ada 3 hal yang sering membuat kita tak bersyukur.
Pertama, kita sering memusatkan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki. untuk Hal ini terjadi karena kita salah dalam melakukan penilaian. Kita sering mengukur suatu nikmat dari Allah dengan ukuran diri sendiri. Artinya, jika keinginannya dipenuhi, maka ia akan mudah untuk bersyukur.
Sebaliknya, jika belum dikabulkan, maka ia enggan untuk bersyukur. Penilaian seperti ini jelas bertentangan dan cenderung menafikan nikmat yang diberikan. Penilaian yang benar adalah berdasarkan apa yang kita peroleh. Karena, apa yang kita inginkan belum tentu yang terbaik di hadapan Allah dan belum tentu juga yang terbaik buat diri kita.
Pikiran kita dipenuhi berbagai target dan keinginan. Kita begitu mengharapkan rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang. Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi. Jadi, betapapun banyaknya harta dimiliki, kita tak pernah menjadi kaya dalam arti yang sesungguhnya.
Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (QS 31: 12).
