Menerapkan satu pola dalam menyikapi anak walaupun ia sudah melakukan perubahan adalah sangat merusak. Misalnya orang tua yang selalu melontarkan kata-kata keras meskipun perilaku si anak sudah berubah menjadi baik. Atau sebaliknya orangtua selalu memuji dan menyanjung meskipun si anak Tengah melakukan keburukan semisal menyakiti teman atau saudaranya.
Jika anak memperoleh perlakuan kasih sayang yang berlebihan dan itu tidak pernah berubah betapapun si anak melakukan keburukan, maka ia akan tumbuh sebagai orang yang tidak memiliki kepedulian. Ia tidak akan berusaha mengubah perilaku dan memperbaiki kesalahannya. Sebab apa pun yang ia lakukan selalu mendapatkan simpati dan sanjungan, yang memang sangat didambakan oleh setiap anak.
Sedangkan bila hanya memperoleh perlakuan kasar dari kedua orangtuanya meskipun ia sudah berusaha untuk lebih baik, ia akan berputus asa dari perubahan perasaan orangtua. Sikap itu akan merangsang dia untuk menolak mengubah sikap dan bersikeras dalam kesalahan selama ia tidak mendapatkan penghargaan dan dorongan atas segala Upaya baiknya untuk memperbaiki diri. Ia juga akan merasa diintimidasi dan dizalimi. Hancurlah pondasi yang kelak akan menjadi pijakan bagi nilai-nilai dan prinsip-prinsip luhur. Ini terjadi karena ia menemukan orang terkdekatnya, yakni orangtuanya, mencontohkan keburukan, kezaliman.
Lalu bagaimana ia akan belajar tentang keadilan? Belajar tentang nilai-nilan dan prinsip-prinsip yang menjadi pijakan Islam?
Sedemikian jauh pengaruh sikap yang nampaknya sepele dan tidak punya arti itu. Sikap seperti itu pulalah yang menyebabkan orang semacam Umar Bin Khattab, ayahnya, adalah orang yang kasar dan keras serta mengabaikan Umar. Muncullah pada diri Umar sikap kasar dan keras yang membuat masalah bagi kaum Muslimin sebelum ia masuk Islam. Namun sikap keras dan kasat itu kemudian menjadi proporsional dan lurus akibat sentuhan iman.