Gong abad kebangkitan Islam telah ditabuh sejak dulu. Meski begitu, umat Islam tak henti didera begitu banyak persoalan.
Namun gaung kebangkitan itu tidak turut melemah. Justru kian kuat,
menggema dimana-mana. Semakin dihimpit dengan permasalahan, semakin yakin pula
bahwa hanya agama Islam yang bisa menyelesaikan masalah.
Persoalannya, bagaimana cara umat Islam bisa bangkit? Bagaimana supaya
Islam diyakini mampu mengatasi masalah dan solusi kebutuhan hidup manusia?
Selain jeritan kejujuran dari nurani manusia, umat Islam lebih dahulu
harus menjamin nawaitu untuk ikhlasnya hati dan bersihnya jiwa.
Meyakinkan diri bahwa semua yang dilakukan bukan karena ada ambisi dan emosi.
Tidak juga karena iri dan benci. Tapi karena dorongan oleh tanggung jawab
keumatan.
Setelah niat dianggap tuntas, selanjutnya umat Islam harus meyakini, bahwa ajaran Islam bukanlah pilihan yang bersifat opsional. Namun yakin seyakin-yakinnya ini adalah wahyu dari Allah swt yang tetap utuh dan sempurna, sejak awal diturunkan hingga berakhirnya kehidupan seluruh makhluk di dunia.
Al-Qur’an murni dari Allah. Sehingga siapa saja yang beriman, seharusnya
mampu menemukan kekuatan iman dan Islam serta bisa memperagakan Islam yang
indah sebagaimana di masa Rasulullah saw dan para Sahabat.
Dengan dua landasan diatas, umat Islam selayaknya
terpanggil untuk bersungguh-sungguh dan berikhtiar penuh dalam menggali letaknya
rahasia kekuatan Islam yang pernah ditampilkan oleh Rasulullah saw. Apalagi
diakui saat ini nyaris dimana-mana terjadi pengaburan ajaran Islam. Itu
terbukti dari sebagian umat yang begitu perhatian terhadap beberapa syariat
tertentu, tapi abai bahkan tidak peduli dengan syariat lainnya.
Dengan keadaan seperti itu, wajar rasanya jika umat Islam kemudian
berkembang namun tak memiliki kekuatan. Jumlahnya terlihat banyak tapi minim
pengaruh dan kontribusi riil di tengah masyarakat. Alih-alih bisa menjadi
sistem kontrol dan aturan yang ditegakkan, kondisinya justru sangat rapuh. Dengan
mudah, kaum Muslimin bisa dipermainkan dan menjadi objek bagi agama atau kaum
yang lain.
