Jujur diakui, saat ini umat Islam mengalami kemunduran luar biasa. Bisa
dikata kemunduran tersebut telah berlangsung selama tujuh abad lebih. Sehingga apa
yang diterima dan diperoleh dari Islam adalah produk dari kualitas Islam yang
mengalami kemunduran itu.
Akibatnya,
jangan heran jika kualitas kaum Muslimin pada akhir zaman sekarang jauh berbeda
dengan orang-orang shalih terdahulu. Shalat yang dirasakan nyaris tak sebanding
dengan keasyikan generasi dahulu saat menikmati shalat bersama Rasulullah saw
dan para sahabatnya. Mengapa demikian ?
Bisa jadi, yang diajarkan kepada kita hanya tentang gerakan fisik shalat
saja. Tidak lagi mendapatkan tuntunan bagaimana mengaktifkan aspek ruhani pada
setiap gerakan shalat itu.
Shalat menjadi ibadah ritual dan kewajiban formalitas saja. Umat Islam
tidak mendapatkan apa-apa dalam shalat kecuali gugurnya kewajiban dan kalkulasi
pahala shalat semata. Padahal bagi orang beriman, shalat adalah wadah memohon
pertolongan dan menghimpun kekuatan.
Shalat ialah sarana komunikasi yang intim dengan Allah swt. Tempat para
hamba berkeluh kesah dan melaporkan setiap program dan kegiatan yang dijalankan.
Jika rukun Islam yang kedua tersebut bertujuan menyadap dan menyedot quwwah
(kekuatan) lima kali sehari semalam, lalu kenapa kekuatan itu tidak kita
rasakan mengalir dalam diri? Jika memang kekuatan itu hadir, mengapa setiap
selesai shalat jiwa kita tetap kerdil dan otak terasa tetap tumpul? Hanya ada
tanggung jawab yang rendah dan cakrawala berpikir yang terbatas.
Rasanya jarang didapati, ada seorang Muslim yang gagah berani
memproklamirkan diri sebagai khalifatullah di muka bumi. Memandang urusan dunia
ini begini kecil sebab ia adalah wakil Allh swt. Dirinya baru saja bertemu dan
mendapat petunjuk langsung dari Allah swt melalui shalat.
Sebaliknya, seringkali sebagian umat Islam menghabiskan waktunya berdebat
soal fiqih, tentang gerakan dan bacaan shalat saja. Bukan berarti itu tidak
penting, namun seharusnya seorang Muslim juga sadar akan kedudukan shalat dan
tanggung jawabnya sebagai khalifatullah.
Lalu bagaimana tuntunan lengkap tentang keikutsertaan aspek ruhani dalam
praktik shalat? Bagaimana cara mendapatkan jawaban dari Allah swt yang bisa
melahirkan kekuatan jiwa dan mengorbitkan kualitas?
Disayangkan, jika pembahasan ini justru seperti terlewatkan. Padahal inilah
modal utama orang beriman untuk tandang ke gelanggang, memperbaiki keadaan
umat.
Kemunduran Islam jadi faktor penyebab hilangnya tuntunan tersebut. Mereka melaksanakan
Islam tapi tidak merasakan kekuatan Islam itu sendiri. Kondisi demikian selayak
makanan yang diperebutkan di meja hidangan.
Rasulullah saw bersabda: “Telah berkumpul umat-umat untuk menghadapi kalian, sebagaimana orang-orang yang makan berkumpul menghadapi piringnya.”
Mereka bertanya: “Apakah saat itu jumlah kami sedikit, wahai Rasulullah ?”
Nabi menjawab: Tidak, pada saat itu kalian banyak, tetapi kalian seperti buih di lautan, dan Allah akan menghilangkan rasa takut dari dada-dada musuh kalian kepada kalian, dan Allah akan menimpakan pada hati kalian penyakit al-wahn.”
Mereka bertanya: “Apakah penyakit al-wahn itu, wahai Rasulullah?”
Nabi menjawab: “Cinta dunia dan takut akan mati.” (Riwayat Abu Daud).
Inilah wujud iman yang tak berdaya. Maka berulangkali Nabi memberikan
motivasi yang ditautkan dengan orientasi kehidupan Akhirat. Mengingatkan, hidup
manusia tak sebatas di dunia saja. Hakikatnya justru pada kehidupan Akhirat.
Orang tidak boleh terpukau dengan kehidupan dunia yang fana. Dunia sebatas ladang tempat menanam amal dan menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya. Namun ironis, sebab sebagian kaum Muslimin seolah mengabaikan perkara hari Akhir tersebut. Itulah yang disebut Nabi sebagai al-wahn, yaitu penyakit cinta dunia dan takut mati.