Pada suatu hari, hiduplah dua sahabat bernama Emas dan Tanah. Mereka tinggal berdampingan di sebuah desa yang subur dan damai. Emas sangat bangga pada dirinya. Ia bersinar terang, disimpan di tempat yang aman, dan selalu dipuji orang-orang. Sedangkan Tanah, ia selalu diinjak, kotor, dan dianggap biasa saja.
Emas sering berkata kepada Tanah, "Lihatlah diriku. Semua orang menginginkanku. Aku disimpan dalam brankas, dijadikan perhiasan, dan bernilai tinggi. Sedangkan kamu? Kamu hanya diinjak, dicangkul, dan dicemari."
Tanah hanya tersenyum. Ia tidak membalas kata-kata Emas. Ia tahu bahwa setiap ciptaan Allah memiliki peran masing-masing.
Suatu hari, desa mereka mengalami masa sulit. Bencana kekeringan melanda. Tanah yang sabar mulai retak, namun tetap mencoba menumbuhkan tanaman dengan sisa air yang ada. Orang-orang datang ke Tanah, berdoa, dan menanam bibit berharap ada panen yang bisa menyelamatkan mereka.
Di sisi lain, Emas tetap diam di tempatnya—di dalam lemari kaca. Ia tak bisa memberi makan orang, tak bisa menumbuhkan apapun.
Akhirnya, ketika musim hujan datang, Tanah pun kembali subur. Tumbuhan tumbuh, buah-buahan bermunculan, dan desa pun pulih kembali.
Saat itu, Emas pun sadar. Ia berkata kepada Tanah, "Maafkan aku. Selama ini aku terlalu sombong. Kini aku tahu bahwa meski kamu tampak biasa, kamu sangat penting dan berharga."
Tanah tersenyum dan menjawab, "Setiap dari kita punya nilai. Bukan dari penampilan, tapi dari manfaat kita bagi sesama."
**Pesan moral:** Jangan menilai sesuatu hanya dari penampilannya. Nilai sejati terletak pada seberapa besar manfaat yang kita berikan kepada orang lain.
