ANAK YATIM Itu di Pusara AYAHNYA

MUNTAMAR
0

 “ANAK YATIM Itu di Pusara AYAHNYA”

Setelah Pak Salahuddin disemayamkan di rumah beliau tadi malam, sekitar jam 22.30 WITA, kami, para sahabatnya di Bontang langsung koordinasi dengan istri beliau dan akhi kamandan Irwan di Jakarta.

Pembicaraan sederhana, tapi berat:

Kapan waktu yang tepat untuk memakamkan beliau?


Akhirnya diputuskan: besok pagi, pukul 09.00 WITA.

Keputusan yang terdengar singkat, tapi penantian dari malam ke pagi itu panjang sekali rasanya.


Menjelang subuh, sebuah notifikasi WA masuk dari Jakarta. Intinya:

"Tolong jaga kondisi istri dan anak-anak beliau. Pastikan mereka tenang."

Kalimat yang pendek, tapi rasanya seperti beban ikut berpindah ke pundak jamaah 


Subuh tiba.

Usai sholat di masjid, kami mendapat arahan dari ketua yayasan tentang seluruh rangkaian pemakaman:

mulai dari tim fardhu kifayah, penggali kubur, hingga prosesi sholat mayit yang akan dilaksanakan bersama warga dan santri putra Hidayatullah Bontang.


Semua proses mengalir dengan rapi.

Dan tibalah waktu sholat mayit.


Saat sedang mengatur shaf, putra almarhum melintas di samping saya.

Saya raih lengannya, lalu berdiri di sampingnya.

Pelan saya bisikkan,

“Ayo, Nak… sholatkan ayah. Kita doakan yang terbaik untuk beliau.”


Ia mengangguk kecil.

Matanya basah.

Tapi ia berusaha tegar.


Setelah sholat selesai, kami mengantar jenazah ke tempat peristirahatan terakhirnya di dunia; pemakaman Pisangan, hanya satu kilometer dari pesantren Hidayatullah Bontang. 

Keluarga, warga, para santri, bahkan ibu-ibu ikut mengiringi.


Pagi Ini matahari belum terik, dan lubang kubur sedikit terlindung oleh pepohonan.

Entah kenapa, suasana jadi terasa lebih syahdu.

Seolah alam pun ikut melembutkan diri.


Prosesi pemakaman berjalan lancar.

Setelah tanah terakhir diratakan, Sekretaris Yayasan memberikan tausyiah pendek, lalu Ust. Amin menutup dengan doa.


Lalu terjadi momen yang paling membelah hati.


Dua putra almarhum mendekat ke pusara ayahnya, ditemani teman-teman sebaya mereka.

Mereka berdoa di tanah yang masih basah, tanah yang baru saja menutup jasad ayah mereka.


Bahunya bergetar.

Air mata jatuh tanpa bisa ditahan.

Dan bukan hanya mereka…

Para jamaah yang hadir ikut terisak, sebagian melap air mata dengan punggung tangan.


Ketika melihat itu, saya meminta agar momen tersebut diabadikan.

Bukan untuk dipamerkan.

Bukan untuk mencari perhatian.

Tetapi sebagai nasehat, sebagai peringatan, sebagai sirene dari langit bagi setiap ayah dan ibu yang masih hidup.


NASEHAT UNTUK Para ORANG TUA 


Ada hal yang hanya bisa diajarkan oleh kematian:

bahwa waktu tidak pernah menunggu kesiapan kita.


Saat melihat seorang anak sujud di pusara ayahnya, kita tiba-tiba sadar…

bahwa semua hal yang sering kita anggap penting pekerjaan, rapat, ambisi, target, posisi; tidak ada nilainya dibanding doa seorang anak untuk orang tuanya.


Karena pada akhirnya…

ketika kita berbaring dalam tanah,

kita tidak butuh rumah mewah, tidak butuh saldo, tidak butuh gelar, tidak butuh jabatan ketua DPW dan DPD, kita hanya butuh anak yang sholeh.


ADA TIGA HAL yang saya PELAJARI dari pusara pagi ini:


MENINGGALKAN ANAK SHOLEH 


Rumah bisa diwariskan.

Harta bisa dibagikan.

Tapi anak yang sholeh… itu tidak bisa dibeli.

Ia hanya bisa dibentuk oleh kesabaran, keteladanan, dan cinta yang benar.


Tidak ada kebanggaan yang melebihi ketika anak menengadahkan tangan, membaca doa, menyebut nama kita saat kita sudah tidak berdaya dan tidak bisa membalas apa-apa.


Karena pada hari itU…

kitalah yang membutuhkan mereka.

Sementara semasa hidup, merekalah yang lebih sering membutuhkan kita dan tidak selalu kita penuhi.


JADILAH AYAH yang Dipanggil dengan RIINDU, Bukan Ditangisi dengan PENYESALAN. 


Banyak ayah sibuk mengejar masa depan anaknya, sampai lupa menemani masa kini anaknya.

Padahal masa depan itu tidak selalu sampai.

Kadang Allah menjemput kita lebih cepat dari semua rencana.


Jika hari ini engkau pulang dan anak-anakmu berlari menyambutmu,

itu bukan hal biasa.

Itu rezeki, itu nikmat, itu kebahagiaan yang besok belum tentu ada.


BAHAGIAKAN KELURGA KECILMU 


Ketika seorang ibu mendudukkan anak-anaknya di depan pusara ayah mereka, kau akan mengerti…

betapa rapuhnya dunia ini,

betapa ringkihnya waktu yang kita punya.


Bila engkau seorang ayah, maka ketahuilah:

keluargamu tidak butuh engkau sempurna, mereka hanya butuh engkau hadir.


Jika engkau seorang ibu, ketahuilah 

engkaulah rumah pertama yang akan dikenang anak-anakmu saat ayah mereka tiada.


Hari ini…

seorang anak berdiri di pusara ayahnya.

Dan tanpa ia sadari, ia sedang mengajarkan kepada kita semua

tentang arti kehilangan, arti cinta, dan arti waktu yang tidak pernah kembali.


Semoga Allah merahmati almarhum Pak Salahuddin.

Semoga Allah menguatkan istri dan anak-anak beliau.

Dan semoga kita para ayah dan bunda tidak menunggu kematian untuk belajar mencintai keluarga kita dengan cara yang benar.

Oleh : Suthiar Hajaring

Bontang, 23 Nov 2025

Tags

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)